Breaking News
Menjadi Full Time Investor

Menjadi Full Time Investor (Not Trader)

Setelah nyemplung di dua sisi, antara trader dan investor…maka ane simpulin bahwa daripada menjadi full time trader, sepertinya menjadi full time investor lebih realistis dan lebih butuh requirement lebih kecil.

CUKUP 2%
Klo menurut Rivan Kurniawan, seorang full time investor….maka target return nggak perlu muluk-muluk, cuma sebesar 2% per bulan aja. Sepertinya ini akan cukup mudah tercapai.

Itu berarti 24% per tahun, cukup diatas 4% per tahun daripada invest di saham kapal induk. Jauh lebih ringan daripada 1% per hari untuk trading. Masalahnya mungkin cuma ada di modal dan mental.

Bila misalnya kebutuhan per bulan sebesar 3jt, maka modal yang dibutuhkan adalah 50x-nya, atau sekitar 150jt. Dengan asumsi mendapatkan return 2% per bulan, maka modal tersebut sudah bisa mengcover semua kebutuhan dalam satu bulan.

Dari 5 RDN, 4 RDN ane udah melewati target itu semua. Yang 2 malah baru berumur setengah bulan. Hanya RDN trading yang nggak melewati targetnya karena kebanyakan sangkut di gorengan. Memang mungkin hanya sebuah keberuntungan aja. Beginner luck. Tapi ini berarti bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Klo sekilas dilihat maka 80%-nya yang investing malah bisa mengalahkan trading.

Benarlah apa kata pak Lo Kheng Hong,
TRADING DAPETNYA RECEH.

Trading, dilain pihak, menurut ane justru akan membutuhkan requirement yang lebih tinggi untuk mengcover banyaknya loss.

DANA DARURAT
Selanjutnya adalah dana darurat, semakin banyak semakin bagus. Klo menurut pak Vier, maka butuh dana sekitar 3 tahun jadi modalnya bisa digulung terus tanpa ada beban harus ditarik, dan supaya bisa merasakan market bearish dan market bullish sehingga pengalaman berinvestasi akan lebih matang.

Juga untuk mengantisipasi apa yang dikatakan pak Vier tentang bertahan di market…banyak yang udah hilang dalam dua tahun. Menurut ane ini karena market bearish yang ga mampu dilewati. Teringat akan petuah jual mobil dan jual panci.

ILMU
Cukup kuasai tiga ilmu aja ternyata:
1. Value Investing – MUST HAVE
2. Momentum (Optional)
3. Quant (Optional)

Kenapa Value Investing dan Momentum?
Karena dua itu adalah anomali yang bisa dibuktikan dengan data empiris. Menurut data riset, keduanya menguasai 86% anomali pasar. Selain itu, hanya 14% aja anomali return yang dihasilkan, jadi menurut ane kurang worth untuk dipelajari lebih dalam.

TREND FOLLOWING IS DEAD
Chart udah tidak perlu dipake.
Teknikal analisis itu NGGAK BERGUNA.

Menurut Jim Simons juga nggak work sejak tahun 80-an. Di tahun sebelumnya, partner Jim Simons yang ahli cryptography menggunakan trend following dan works, tanpa sepengetahuan Jim Simons. Ketika di tahun 80 merosot, saat itu Jim Simons menanyakan cara kerja blackbox-nya, yang ternyata adalah TREND FOLLOWING. Jim Simons murka dan membuang algo tersebut ke tempat sampah. Kenapa? Karena trend following tidak memiliki data empiris yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Lupakan belajar chart dan lupakan keinginan untuk bergabung di grup-grup trading saham. Lebih bagus dananya dibuat belajar value investing aja.

Kuasai momentum bila ingin return lebih cepat dan lebih maksimal. Sebagai perbandingan, yield Value Investing yang menggunakan momentum dibandingkan dengan Value Investing tanpa momentum, adalah 2x lipat dalam waktu yang sama.

Ini karena momentum bisa mengeksploitasi kenaikan saham dalam jangka pendek dan penyerapan modal yang bisa lebih cepat dibandingkan metode value investing yang masih harus berjaga-jaga adanya dry powder (cash) untuk averaging down. Cash akan menjadi drag, menjadi beban porto dan menurunkan return. Momentum tidak perlu melakukan averaging down jadi cash bisa fully invested. Kelemahannya, tentu volatilitas menjadi jauh lebih tinggi sehingga dibutuhkan ilmu tambahan untuk mengontrolnya…QUANT.

Bila masih kurang, ada ilmu tambahan, yang lebih rumit adalah ilmu quant yang bisa digunakan untuk memaksimalkan return dan meminimalkan resiko.

sumber : https://www.facebook.com/photo/?fbid=10221198790494857&set=a.2719090171971